MUI Tegaskan Ibadah Haji di Metaverse Tidak Memenuhi Syarat

Ketua Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Asrorun Niam Sholeh menyatakan ibadah haji secara virtual tidak memenuhi syarat.

Editor: Ign Prayoga
AFP via Tribunnews.com
Para jemaah melakukan tawaf ifadhah (perpisahan) pada 22 Juli 2021. 

TRIBUNTANGERANG.COM, TANGERANG -- Ibadah haji di metaverse menulai polemik di masyarakat. Polemik ini bermula ketika Desember tahun lalu, Arab Saudi menghadirkan hajar aswad, sebuah batu hitam yang terletak di tenggara Kabah, ke dunia metaverse.

Diberi nama “Virtual Black Stone Initiative” beberapa warganet melakukan perjalanan haji virtual lewat metaverse.

Ketua Presidensi Dua Masjid Suci Sheikh Abdul Rahman al-Sudais menjadi orang pertama yang mencoba Virtual Black Stone Initiative. "Arab Saudi memiliki situs keagamaan dan sejarah besar yang harus kita digitalkan dan komunikasikan kepada semua orang melalui sarana teknologi terbaru," kata Sheikh al-Sudais, dikutip dari Middle East Eye.

Sebagai informasi, Virtual Black Stone Initiative dibuat untuk memperkenalkan Kabah pada dunia. Namun ide tersebut justru malah disalah artikan sebagai kunjungan ibadah haji.

Beberapa pengguna menyebut teknologi VR merusak agama. Sementara pengguna media sosial lainnya mempertanyakan kemungkinan berhaji melalui metaverse dengan cara mengelilingi Kabah secara virtual.

Ketua Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Asrorun Niam Sholeh mengatakan, pelaksanaan ibadah haji dengan mengunjungi Kabah secara virtual di Metaverse tidak memenuhi syarat.

Sebab, aktifitas ibadah haji merupakan ibadah mahdlah yang tata cara pelaksanaannya sudah ditentukan.

Baca juga: Pelanggan Indomaret Renovasi Ruang Sekolah hingga Vaksinasi Pelajar dan Santri

"Haji itu merupakan ibadah mahdlah, besifat dogmatik, yang tata cara pelaksanaannya atas dasar apa yang sudah dicontohkan oleh Nabi SAW," kata Niam saat dihubungi Kompas.com, Selasa (8/2/2022).

Menurutnya, ada beberapa ritual dalam haji yang membutuhkan kehadiran fisik dan terkait dengan tempat tertentu, seperti thawaf.

Ia menjelaskan, tata cara thawaf adalah mengelilingi Kabah sebanyak tujuh kali putaran dimulai dari sudut hajar aswad (secara fisik) dengan posisi Kabah berada di sebelah kiri jemaah.

"Manasik haji dan umrah tidak bisa dilaksanakan dalam hati, dalam angan-angan, atau secara virtual, atau dilaksanakan dengan cara mengelilingi gambar Kabah atau replika Kabah," jelas dia.

Baca juga: Pentingnya Daya Tahan Tubuh di Tengah Meroketnya Kasus Omicron

Niam menuturkan, platform hajar aswad di Metaverse untuk kunjungan Kabah secara virtual. Hal ini bisa dimanfaatkan untuk mengenali lokasi yang dijadikan tempat pelaksanaan ibadah haji.

Menurutnya, kunjungan virtual hajar aswad di Metaverse juga bisa dilakukan untuk persiapan pelaksanaan ibadah atau biasa disebut sebagai latihan manasik haji atau umrah.

"Kunjungan ke Kabah secara virtual bisa dioptimalkan untuk explore dan mengenali lebih dekat, dengan 5 dimensi, agar ada pengetahuan yang utuh dan memadai sebelum pelaksanaan ibadah," ujarnya.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved